Seniman Katolik Ungkapkan Suara Allah Lewat Karyanya
MANILA (UCAN) -- Seorang pengusaha yang menjadi seniman berharap bahwa
karya seninya akan menolong orang-orang untuk memperhatikan mereka yang
kurang beruntung dan tergerak untuk menolong.
Joey Velasco, 39, baru-baru ini meluncurkan sebuah buku berdasarkan anak-anak
yang digunakan di Hapag ng Pag-asa (meja harapan), sebuah lukisan yang ditirunya
dari Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci.
Velasco mengatakan kepada UCA News setelah peluncuran buku 13 Oktober itu
di Metro Manila bahwa sebagai seorang pengusaha, tak pernah terlintas dalam
benaknya untuk menjadi seorang seniman atau seorang penulis. Kemudian, setelah
menjalani sebuah operasi ginjal pada Januari 2005, dia merasakan ada dorongan
yang sedemikian memaksanya untuk melukis. "Lewat keterbukaan dan mendengar
secara jeli terhadap dorongan Roh itu, saya begitu cepat terjerumus ke dalam
seni keagamaan,?katanya.
Setelah menyelesaikan lukisannya pada bulan Desember, dia mulai menulis
bukunya, "They Have Jesus: The Stories of the Children of Hapag"
(Mereka Memiliki Yesus: Kisah-Kisah Anak-Anak Hapag), tentang anak-anak
dalam lukisannya, yang dipamerkan secara terbuka di pintu masuk ke bangunan
seminari tinggi di kampus Universitas Santo Tomas.
Ayah empat anak itu menjadikan lukisan dan bukunya itu sebagai warisan bagi
anak-anaknya. Karyanya itu akan mengingatkan mereka tentang nilai-nilai
cinta kasih (charity) dan belas kasih (compassion). Di masa lalu, dia gagal
menunjukkan situasi nyata kehidupan kepada anak-anaknya, karena kami berada
dalam suatu kehidupan yang sangat menyenangkan, demikian pengakuan mantan
pengusaha itu.
"Saya menggantung Hapag ng Pag-Asa itu di ruang makan saya untuk mengingatkan
anak-anak saya untuk bersyukur atas apa yang mereka miliki untuk dimakan,
atas apa yang telah mereka terima. Dan yang terpenting, lukisan itu membuat
mereka ingat akan orang lain yang tidak memiliki apa-apa, katanya.
Dua belas anak yang ada dalam lukisan itu adalah orang-orang nyata yang
dia temukan di tempat-tempat yang berbeda di Quezon City. Velasco memberi
mereka makanan agar mereka berpose untuk dilukis. Anak-anak yang berusia
4-14 tahun itu mengungkapkan sebuah cerita tentang suatu kelaparan yang
lebih besar yang tak bisa dipuaskan dengan sepiring nasi, katanya.
"Mereka itulah yang menyentuh jiwa saya," lanjutnya. "Melalui
mereka, Allah berbicara kepada saya dan menggerakkan saya untuk melukis
cerita-cerita mereka dan menceritakan kehidupan mereka kepada orang-orang
lain."
Gadis kecil yang berdiri di pojok kiri lukisan, yang dalam lukisan da Vinci
itu adalah tempat Yudas, adalah Nene yang berusia 10 tahun. Velasco menemuinya
di Manila North Cemetery. Di pemakaman itu, Nene dan keluarganya hidup sebagai
pemulung di antara makam-makam.
Onse, 9, duduk di meja. Piringnya bersih tanpa satu remahpun. Dia mendengarkan
Yesus yang memberi makan rekan-rekan lainnya yang lapar, kata Velasco. Anak
itu memungut barang bekas dengan menggunakan kereta dorong. Ayahnya kecanduan
narkoba dan ibunya bekerja sebagai seorang penari bugil.
Itok, pemulung lainnya yang berusia 11 tahun, adalah pencari nafkah bagi
keluarganya. Dia duduk di sebelah kanan Yesus. Menurut Velasco, Itok pernah
dipenjarakan karena tertangkap melakukan sejumlah pencurian.
Seorang anak lain dalam lukisan itu tidak tinggal di Quezon City. Velasco
menempatkan seorang anak kecil asal Sudan bersama kucing-kucing di bawah
meja yang sedang berebutan remah-remah yang jatuh. "Anak yang kurus
kering itu bukan salah satu dari anak-anak yang berkeliaran di jalan-jalan
utama pada malam hari, jelas seniman itu. Dia adalah sebuah tokoh simbolik
rekaan yang di masa lalu memuaskan dirinya sendiri dengan makanan-makanan
yang tidak perlu, (tapi) sekarang menemukan dirinya berada di bawah meja
sedang mencari remah-remah spiritual.
Dalam kata pengantar untuk buku karya Velasco itu, Gaudencio Kardinal Rosales
dari Manila menantang masyarakat untuk "menerima lukisan ini sebagai
lukisan Anda sendiri dan menjadikan meja makan terbuka untuk kehidupan bukan
sekedar meja harapan, tetapi sebuah Hapag ng pag-ibig (meja cinta)."
Sebuah pameran Hapag ng Pag-Asa dan lukisan-lukisan lain karya Velasco juga
diadakan bersamaan dengan peluncuran bukunya di SM Mega Mall.
Dalam acara pembukaan peluncuran yang dihadiri sekitar 200 orang, termasuk
banyak pastor dan suster serta sahabat dan sanak sudara Velasco, Pastor
Francis Gustilo SDB mengatakan, karya-karya Velasco mengungkapkan suara
Allah bagi Gereja dan bangsa Filipina."
Ketika orang begitu gampang melupakan Allah dan tidak ada perhatian satu
sama lain, penulis tidak hanya mendengarkan suara Allah di dalam dirinya
tetapi juga mengungkapkan suara itu melalui lukisan-lukisan dan bukunya,
kata imam itu. Dia melihat karya Velasco dapat mengingatkan masyarakat untuk
mengakui kehadiran Allah dalam penderitaan sesama.
Dokter Danilo Lerma dari Rumah sakit Universitas Santo Tomas, yang juga
seorang seniman, mengatakan kepada UCA News bahwa seni "punya kekuatan
yang luar biasa dalam mengungkapkan Kabar Gembira dalam Injil-Injiil. Inilah
alasanya, katanya, mengapa Gereja selalu menggunakan seni untuk berbagai
karya pastoral dan evangelisasi.
Velasco, kata Lerma, "sudah mulai menemukan ekspresinya yang nyata
dari Injil di masa sekarang dan di dalam kenyataan bangsa, yaitu persoalan
kemiskinan. Joey adalah sebuah alat Allah ... dia menggunakan hatinya sesuai
kehendak Allah."
|